Monday, June 21, 2021
Home Nasional 39 Stasiun Seismik Tambah Kecepatan dan Akurasi Data Informasi Gempa Bumi

39 Stasiun Seismik Tambah Kecepatan dan Akurasi Data Informasi Gempa Bumi

BERITABANDUNG.id – Indonesia tercatat sebagai salah satu negara yang paling banyak mengalami gempa bumi. Ini karena Indonesia terletak di atas tiga lempeng yakni Lempeng Eurasia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Indo-Australia. Untuk itulah betapa pentingnya pemerintah melalui BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) terus meningkatkan kemampuannya memperoleh informasi yang akurat mengenai parameter mekanisme sumber terjadinya gempa bumi.

Menurut Rastina Anggraeni, Manajer Komunikasi Korporasi, PT Len Industri (Persero) BMKG memiliki program peringatan dini tsunami yang dikenal dengan nama Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS).

Sistem InaTEWS menggabungkan antara data seismik, data GPS, data Buoy, dan data Tide Gauge. Pada sistem InaTEWS, data seismik menjadi ujung tombak observasi, karena dapat mendeteksi potensi tsunami dalam waktu 4 – 5 menit setelah kejadian gempa bumi.

Tahun 2019 lalu, BMKG mempercayakan kepada PT Len Industri (Persero) dalam memasang 194 stasiun monitoring gempa bumi yang tersebar di seluruh Indonesia. Kepercayaan tersebut berlanjut di tahun 2020 sekarang untuk kembali memasang sebanyak 39 titik stasiun miniregional monitoring gempa bumi milik BMKG. Dengan demikian keseluruhan seismograf yang dimiliki BMKG kini akan berjumlah 411 unit.

Penyelesaian pemasangan miniregional ditargetkan sesuai batas waktu pelaksanaan pekerjaan dalam kontrak yakni tanggal 18 Desember 2020. Target tersebut tercapai karena sudah 100% rampung dan kini telah beroperasi.

 

Pimpinan Proyek Pemasangan 39 Miniregional PT Len Industri, Randy Dwi Rahardian menjelaskan, “Pandemi Covid-19 yang masih melanda sekarang cukup menjadi kendala. Ketersediaan moda transportasi untuk distribusi barang menjadi terbatas karena adanya pembatasan jadwal keberangkatan kapal dan jumlah kapal. Terhadap situasi pandemi saat ini memang berpengaruh sekali dalam pelaksanaan proyek. Dengan perencanaan dan monitoring proyek yang kuat kita dapat melewatinya dengan baik,” tegas Randy.

Beberapa lokasi memiliki latak geografis yang sulit dijangkau di beberapa wilayah Indonesia Bagian Tengah dan Timur seperti di Sulawesi, Maluku, NTT, NTB, dan Papua. Mulai dari perjalanan dari kota ke lokasi yang jarak tempuhnya cukup jauh hingga akses jalan yang dilalui jalannya rusak.

Manajer Rekayasa Sistem Unit Bisnis ICT & Navigasi PT Len Industri, Yudhistira Utomo mengatakan, “Sebanyak 39 lokasi itu banyak dipasangnya di Indonesia Bagian Timur, yang memang masih belum serapat jaringan sensor seismik di Indonesia Bagian Barat. Di barat sendiri, kita pasang dua (2) stasiun di selatan Pulau Jawa. Lokasinya di Yogyakarta.”

Dengan penambahan ini maka sensor-sensor seismik di tanah air menjadi lebih rapat. “Data yang diterima semakin banyak sehingga akurasi dan kecepatan informasi penentuan gempa dapat meningkat. Saat ini sudah di kisaran 4 hingga 5 menit untuk informasi peringatan gempa (semenjak kejadian),” katanya.

Meski konfigurasi dan pendekatan pengerjaannya sedikit berbeda dengan stasiun yang dipasang pada tahun lalu, namun dia memastikan kinerja alat justru lebih andal. Stasiun juga tetap menggunakan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) produksi Len Industri sebagai sumber catu dayanya.

“Yang membedakan tahun ini dengan tahun 2019 lalu, tahun ini menggunakan sistem posthole seismometer, dimana seismometer akan dimasukan ke dalam lubang. Hal ini untuk mengurangi environment noise terhadap data sehingga dapat melakukan improvement kualitas data,” ujarnya.

Sebagai perusahaan BUMN yang berbasis teknologi, Len Industri memiliki mimpi besar bahwa suatu saat nanti bisa menjadi penyedia produk dan teknologi infrastruktur sistem sensor peringatan dini kebencanaan di Indonesia. Saat ini Len Industri memiliki peran sebagai integrator sistem maupun pemeliharaan sistem tersebut.

Integrator sistem memiliiki 3 tanggung jawab utama, yakni membangun sistem, menjamin ketersediaan (availability) data dan kualitas data. Perusahaan harus dapat menjamin availability data di atas 90% atau bahkan 99%.

“Penempatan seismometer itu tidak bisa asal, kita harus mendapatkan kualitas data yang baik. Suhu dan kelembapan ruangan juga berpengaruh karena sangat sensitif,” ujarnya.

Selain di sistem power, belum ada produk sendiri milik Len Industri yang diintegrasikan. Hingga saat ini, principal produk seismohardware sebagian besar berasal dari Amerika sebagai partner selama ini.

“Len membeli barang dari principal. Transfer knowledge saat ini masih sebatas penggunaan dan konfigurasi, tapi tidak tertutup kemungkinan ke depan akan ada ToT (Transfer of Technology),” pungkasnya.

Source : Indowarta Grup

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Petugas Gabungan Putar Balik 500 Kendaraan Wisatawan di Perbatasan Garut-Bandung

BERITABANDUNG.id - Upaya menekan penyebaran virus Covid-19 di Kabupaten Garut, petugas gabungan putar balik 500 kendaraan wisatawan di perbatasan Bandung-Garut, Minggu (20/6/2021). Petugas gabungan dari...

Ketua Pemuda Pancasila Jabar H. Tubagus Dasep Meninggal Dunia

BERITABANDUNG.id - Ketua MPW Pemuda Pancasila Jabar Tubagus  Dasep menghembuskan nafas terakhirnya, Minggu 20 Juni 2021. Kabar duka tersebut disampaikan anak yang juga aktivis kepemudaan...

Keterisian Tempat Tidur Ruang Isolasi RS Covid-19 di Kota Bandung Sentuh 92 Persen

BERITABANDUNG.id - Keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) di ruang isolasi bagi pasien Covid-19 di berbagai rumah sakit di Kota Bandung terus...

Tekan Lonjakan Kasus Covid-19, Polisi di Bandung Bubarkan Kerumunan Warga

BERITABANDUNG.id - Polrestabes Bandung mulai gencar mengawasi dan melakukan pembubaran kerumunan warga di pusat Kota Bandung untuk menekan angka kasus Covid-19 yang kini sedang melonjak. Kapolrestabes...

Recent Comments

Pin It on Pinterest

Share This

Share this post with your friends!