Sunday, April 19, 2026
HomeKabar Kab BandungBandung 385 Tahun: Bupati Harus Menjawab

Bandung 385 Tahun: Bupati Harus Menjawab

Oleh: Imam Syafei, M.Pd
(Sebagai Pemerhati Pendidikan Masyarakat)

BERITABANDUNG.ID, OPINI – Peringatan Hari Jadi Kabupaten Bandung ke-385 tahun kembali digelar. Seremoni berlangsung, ucapan mengalir. Namun di balik itu, ada satu hal yang tak bisa lagi ditunda: publik menunggu jawaban.
Banjir masih berulang, bahkan hingga menelan korban jiwa. Ini tidak lagi dapat dipandang semata sebagai faktor alam, melainkan indikator bahwa penanganan lingkungan, tata ruang, dan mitigasi bencana belum diselesaikan secara tuntas. Ketika peristiwa yang sama terus terjadi, maka yang dipertanyakan bukan lagi sebabnya, melainkan keseriusan penyelesaiannya.
Sorotan publik juga mengarah pada tata kelola Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), termasuk BDS. Dalam situasi ketika kepercayaan menjadi kunci, transparansi, profesionalisme, dan akuntabilitas bukan sekadar tuntutan, melainkan keharusan. BUMD harus hadir sebagai penggerak ekonomi daerah, bukan sekadar entitas administratif.
Persoalan yang lebih mendasar terlihat pada pendidikan dan masa depan generasi muda. Masih adanya anak yang tidak bersekolah menunjukkan bahwa akses belum sepenuhnya merata. Pada saat yang sama, tingginya pengangguran terutama di kalangan pemuda menjadi tanda bahwa pendidikan belum terhubung secara efektif dengan kebutuhan dunia kerja.
Di tengah kondisi tersebut, guru termasuk guru PPPK tetap menjalankan perannya sebagai garda terdepan. Namun ketika kesejahteraan mereka masih menjadi persoalan, maka upaya peningkatan kualitas pendidikan akan sulit mencapai hasil optimal.
Masalahnya bukan pada kurangnya data atau wacana. Persoalan hal ini telah lama diketahui. Yang kerap absen adalah ketegasan dalam menuntaskan.
Hari jadi seharusnya menjadi momen refleksi yang jujur. Tanpa keberanian untuk berbenah secara menyeluruh, ia berisiko menjadi rutinitas tahunan yang kehilangan makna.
Kabupaten Bandung tidak kekurangan potensi. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk berhenti menunda dan mulai menyelesaikan persoalan dari akar.
Di usia ke-385 tahun ini, masyarakat tidak lagi menunggu penjelasan. Masyarakat menunggu jawaban.
Dan di titik inilah kepemimpinan diuji.
Jika banjir terus berulang, jika anak masih tidak bersekolah, jika lulusan masih menganggur, dan jika kesejahteraan guru belum memadai, maka pertanyaan publik bukan lagi apa masalahnya melainkan kapan semua ini diselesaikan.
Pada akhirnya, yang akan diingat bukanlah seberapa meriah perayaan, melainkan seberapa berani pemimpin menghadirkan perubahan.
Dan di usia ke-385 tahun ini, satu hal menjadi terang: masyarakat sudah cukup menunggu.

Most Popular

Recent Comments

error: Mohon maaf konten diproteksi !!