BERITABANDUNG.id – Komitmen menuju pengelolaan sampah berkelanjutan kembali ditegaskan melalui kolaborasi antara Universitas Islam Bandung dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Peninjauan teknologi Reaktor Plasma Dingin di Living Laboratory TPS Berbudaya Arcamanik, Kota Bandung, menjadi langkah konkret dalam mempercepat implementasi sistem pengolahan sampah berbasis inovasi dan rekayasa sosial.
Rektor Unisba, Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., menegaskan bahwa optimalisasi teknologi tidak bisa berdiri sendiri tanpa perbaikan tata kelola sampah dari hulu. Menurutnya, pemilahan sampah di tingkat rumah tangga hingga kelurahan menjadi kunci utama agar kapasitas reaktor plasma dapat dimaksimalkan.
“Jika input sudah terpilah dengan baik sejak sumbernya, proses di TPS akan jauh lebih efisien. Ini bukan hanya soal teknologi, tapi juga budaya,” ujarnya.
Teknologi reaktor plasma dingin yang dikembangkan Unisba menjadi bagian dari strategi besar zero waste kampus tersebut. Sistem ini dirancang untuk menghancurkan residu sampah melalui proses ionisasi berbasis sinar ultraviolet, berbeda dengan insinerator konvensional yang mengandalkan pembakaran berbahan bakar.
Ketua Tim Task Force Zero Waste Unisba, Dr. Imam Indratno, S.T., M.T., menjelaskan bahwa plasma yang dihasilkan menjadi sumber energi utama reaktor, sehingga prosesnya lebih terkendali dari sisi emisi.
“Hasil uji laboratorium menunjukkan emisi berada jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan dalam regulasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Kami juga akan melakukan uji lanjutan terkait dioksin dan furan bersama PUSARPEDAL,” jelasnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, menyampaikan bahwa pengembangan teknologi ini masih dalam tahap peningkatan kapasitas. Saat ini reaktor mampu mengolah sekitar 1,5 hingga 2 ton sampah per hari, dengan target peningkatan hingga 5 ton per hari.
“Kami melihat hasil awal yang positif, khususnya dari sisi pengendalian polusi. Ke depan, sinergi antara provinsi, kota, dan perguruan tinggi akan terus diperkuat,” katanya.
Lebih dari sekadar inovasi teknologi, Unisba juga menyiapkan pendekatan socio-engineering sebagai bagian integral dari tiga pilar program zero waste, yakni reaktor plasma, pengelolaan food waste, dan rekayasa sosial. Pendampingan masyarakat akan melibatkan dosen dan mahasiswa melalui koordinasi kewilayahan di Kecamatan Arcamanik.
Pendekatan ini diharapkan mampu membangun budaya pemilahan sampah yang berkelanjutan, sehingga target pengurangan residu ke TPA dapat tercapai secara sistematis.
Kolaborasi akademisi dan pemerintah ini menjadi model integrasi antara riset, kebijakan, dan partisipasi masyarakat dalam menjawab tantangan darurat sampah perkotaan, khususnya di Kota Bandung dan Jawa Barat secara umum.

