BERITABANDUNG.id – Wafatnya cendekiawan Muslim dunia, Syed Muhammad Naquib al-Attas pada usia 94 tahun menjadi kehilangan besar bagi dunia intelektual Islam. Sosoknya dikenal sebagai pemikir yang memberikan kontribusi penting dalam pengembangan filsafat pendidikan, epistemologi Islam, serta gagasan besar tentang Islamisasi ilmu pengetahuan.
Meskipun telah berpulang, pemikiran al-Attas tetap hidup melalui karya-karya dan diskursus akademik yang terus berkembang. Salah satu buku yang mengulas secara khusus gagasan tersebut adalah Islamisasi Ilmu ala Naquib al-Attas karya Ghazi Abdullah Muttaqien yang diterbitkan oleh Dafamedia Pustaka pada 2025.
Buku ini hadir sebagai upaya untuk memahami lebih dalam konsep Islamisasi ilmu yang digagas al-Attas. Penulisnya, seorang mahasiswa di Universitas Islam Madinah, mencoba memetakan secara sistematis dasar-dasar pemikiran al-Attas tentang hubungan antara ilmu pengetahuan dan pandangan hidup Islam.
Salah satu gagasan utama yang ditekankan al-Attas adalah bahwa ilmu pengetahuan tidak pernah sepenuhnya netral. Setiap sistem ilmu lahir dari kerangka pandangan dunia tertentu. Dalam konteks modern, ilmu pengetahuan Barat berkembang dalam paradigma sekularisme yang memisahkan agama dari proses pencarian kebenaran ilmiah.
Dominasi paradigma ini, menurut al-Attas, telah mempengaruhi cara berpikir umat Islam. Ketika ilmu Barat diadopsi tanpa penyaringan nilai-nilai filosofis yang melandasinya, maka muncul apa yang ia sebut sebagai disorientasi intelektual. Ilmu yang seharusnya menjadi sarana untuk memahami hakikat kehidupan justru kehilangan arah karena terlepas dari nilai-nilai spiritual.
Di sinilah konsep Islamisasi ilmu menjadi penting. Al-Attas memandang Islamisasi bukan sekadar memberi label Islam pada disiplin ilmu modern, tetapi melakukan rekonstruksi mendalam terhadap kerangka epistemologi ilmu itu sendiri. Tujuannya adalah mengembalikan ilmu pengetahuan kepada pandangan hidup tauhid yang menempatkan Tuhan sebagai pusat realitas.
Dalam buku ini, Ghazi Abdullah Muttaqien menjelaskan bahwa Islamisasi ilmu merupakan proses pembebasan akal manusia dari pengaruh sekularisme yang mendominasi tradisi ilmu modern. Proses ini juga mencakup upaya membersihkan konsep-konsep ilmu dari unsur-unsur yang bertentangan dengan pandangan hidup Islam.
Lebih jauh, al-Attas melihat krisis utama umat Islam bukan semata-mata kemunduran teknologi atau ekonomi, melainkan krisis dalam memahami ilmu pengetahuan. Ketika ilmu kehilangan orientasi tauhid, maka manusia juga kehilangan arah dalam memahami tujuan hidup dan perannya di dunia.
Konsep Islamisasi ilmu yang ditawarkan al-Attas berupaya mengatasi krisis tersebut dengan membangun kembali fondasi epistemologi Islam. Dalam kerangka ini, ilmu tidak hanya dipandang sebagai alat untuk menguasai alam, tetapi juga sebagai sarana untuk mengenal Tuhan dan memahami keteraturan ciptaan-Nya.
Buku karya Ghazi Abdullah Muttaqien ini menjadi salah satu upaya penting untuk memperkenalkan kembali pemikiran al-Attas kepada generasi muda Muslim. Di tengah arus globalisasi ilmu pengetahuan yang semakin kuat, gagasan Islamisasi ilmu dapat menjadi pijakan untuk membangun tradisi keilmuan yang lebih berakar pada nilai-nilai Islam.
Dengan demikian, meskipun Syed Muhammad Naquib al-Attas telah wafat, warisan intelektualnya tetap relevan bagi masa depan umat Islam. Pemikirannya mengingatkan bahwa kebangkitan peradaban Islam tidak hanya bergantung pada kekuatan ekonomi atau politik, tetapi juga pada kemampuan membangun kembali fondasi keilmuan yang berlandaskan tauhid.
Warisan pemikiran tersebut kini menjadi tanggung jawab generasi penerus untuk terus dikaji, dikembangkan, dan diterapkan dalam kehidupan intelektual umat.

