Friday, April 17, 2026
HomeRegional JabarKucurkan Rp18 Miliar, Limbah TPAS Sarimukti Masih Naik Turun: Pemprov Janji Beres...

Kucurkan Rp18 Miliar, Limbah TPAS Sarimukti Masih Naik Turun: Pemprov Janji Beres Akhir Tahun

BERITABANDUNG.id – Pemerintah Provinsi Jawa Barat menggelontorkan anggaran sebesar Rp18 miliar untuk memperbaiki sistem pengelolaan limbah di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Sarimukti. Langkah ini dilakukan untuk memastikan proses pembuangan limbah bisa berjalan sesuai standar dan tidak mencemari lingkungan.

Menurut Sekretaris Daerah (Sekda) Jabar Herman Suryatman, metode open dumping di Sarimukti kini telah digantikan oleh sistem sanitary landfill, yaitu teknik pemadatan dan penimbunan sampah di lokasi khusus yang ditutup dengan tanah. Namun demikian, masih terdapat kendala serius dalam pengelolaan limbah cair.

“Sarimukti memang sudah menerapkan sanitary landfill dan didukung teknologi yang relatif baik, tapi masih ada kekurangan. Hari ini sedang kami perbaiki,” ujarnya di Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (16/6/2025).

Herman menjelaskan bahwa dana sebesar Rp18 miliar tersebut akan digunakan untuk merehabilitasi kolam stabilisasi, kolam aerob dan anaerob, serta instalasi penurun kadar nitrogen atau air stripping.

“Tujuannya agar pencemaran limbah bisa benar-benar ditekan hingga di bawah ambang batas. Saat ini masih naik turun karena ada kerusakan di beberapa fasilitas,” tambahnya.

Selain itu, Pemerintah Provinsi juga tengah bersiap mengoperasikan zona 5 di TPAS Sarimukti, menyusul penuh dan kritisnya zona 1 hingga 4. Herman menyebut, zona baru ini akan menjadi andalan sementara sambil menunggu percepatan pembangunan tempat pengolahan baru di Legok Nangka.

“Mudah-mudahan zona 5 bisa diandalkan untuk tiga tahun ke depan,” ungkapnya.

Ia menegaskan, masa pakai TPAS Sarimukti perlu diperpanjang bukan hanya dengan pengelolaan sampah baru, tetapi juga pengolahan sampah lama yang masih menumpuk di lokasi.

“Kami akan edukasi kabupaten dan kota agar tidak hanya mengirim sampah baru, tapi juga membantu menyelesaikan warisan sampah yang sudah ada,” katanya.

Lebih jauh, Herman juga mendorong agar kesadaran masyarakat soal pengelolaan sampah dimulai dari hulu, yakni dari rumah tangga.

“Tolong diedukasi dari rumah tangga. Yang paling keren itu zero food waste, zero waste, tidak ada sampah makanan dari rumah,” ucapnya.

Menghabiskan Rp18 miliar untuk rehabilitasi limbah adalah langkah yang terdengar baik—di atas kertas. Tapi di lapangan, publik menunggu hasil yang tak sekadar retoris. Warga Bandung Raya sudah terlalu lama ‘menanggung bau’ janji-janji pengelolaan sampah. Mari kita hitung mundur menuju Desember 2025. Kalau gagal lagi, limbahnya bukan cuma di Sarimukti, tapi juga dalam integritas birokrasi kita.

Most Popular

Recent Comments

error: Mohon maaf konten diproteksi !!